Bocah Kampung Jangan Disanjung

Sabtu, 27 Maret 2021

Pengaruh Covid-19 Terhadap Pembelajaran Mahasiswa


    Saya tertarik mengangkat tema Covid-19 karena you know lah situasi sekarang yang benar-benar berbeda, pandemi covid-19 yang tidak pernah terbayangkan orang-orang akan kedatangannya malah membuat hidup kita berubah secara drastis. Interaksi sosial terbatas, dibatasi kerumunan, ruang publik dibatasi, sampai bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan semua gerak-gerik kita tidak bisa leluasa apa yang kita mau lakukan. Covid-19 sudah satu tahun bersama kita, sejak awal 2020 kemarin secara tiba-tiba tanpa diundang datang ke rumah kita sebagai tamu yang tak diundang dengan menebar terus-terusan teror secara fisik maupun psikis.  Keadaan itulah sejatinya tidak dapat diterima.

    Saya kurang setuju atas munculnya frasa kalimat "New Normal"  (Kenormalan Baru) yang semua orang harus bertranformasi ke gaya hidup baru. Ketidaksetujuan bukan datang dari diri saya yang menganut paham konspirasi tidak percaya akan adanya covid-19 tetapi bukan. Saya masih belum bisa move on dari gaya hidup lama.  Karena saya masih terjebak akan keterlenaan kehidupan yang bebas atas segala aktivitas sehingga menimbulkan rasa kerinduan pada kehidupan seperti semula (Old Normal) .  Lihatlah semula kita keluar rumah tanpa masker sekarang semua orang wajib pakai masker kemanapun, lihatlah orang-orang dibatasi untuk bercengkrama yang dahulu (sebelum covid-19) kita pasti bertemu banyak orang dalam komunitas, lihatlah tempat-tempat umum banyak di batasi aktivitasnya sampai ada yang di tutup, lihatlah di rumah mu bahwa adik, kakak atau siapapun tidak bisa pergi ke sekolah/kampus karena di liburkan dan lihatlah disekitar mu bahwa masih banyak kejadian berubah secara mengejutkan.

   Dari masalah-masalah di atas sebenarnya saya sangat tertarik untuk dibahas namun disamping keterbatasan ide pemikiran yang ada di kepala tidak mampu menuangkan semuanya dalam bentuk tulisan. Saya hanya dapat  menuliskan mengenai fenomena pendidikan di masa pandemi terutama pada mahasiswa. Banyak mahasiswa yang memiliki masalah selama covid-19 karena saya secara individu mengalaminya. Termasuk pengalaman pribadi ini sebagai keluh kesah atas masalah yang ditimbulkan covid-19 pada kami sebagai mahasiswa.

    Di awali pergeseran model pembelajaran. Pembelajaran yang semula dilakukan tatap muka sangat cocok sekali namun akibat pandemi mahasiswa harus dipaksa belajar secara daring (online) begitulah. Saya harus akui banyak kekurangan belajar daring melalui aplikasi video conference dimana layar sebagai pembatas bertemunya mahasiswa dan dosen meskipun tidak langsung. Belum lagi kendala teknis selama perkuliahan seperti kendala jaringan, hujan lebat, dan mati lampu. Kondisi yang serba kekurangan memicu perspektif dari mahasiswa untuk malas mengikuti kuliah. Bukan nya apa aktivitas perkuliahan secara daring terus-terusan menciptakan ruang kebosanan pada mahasiswa. Akibatnya, selama perkuliahan banyak mahasiswa mematikan kamera di saat dosen berbicara.  

    Individualistik yang melekat terhadap mahasiswa pasti akan terbangun meski adanya alat bantu komunikasi yang memungkinkan bertemunya beberapa orang dalam satu ruang virtual. Belum bisa mengokokohkan prinsip solidaritas kerja sama secara kuat. Seperti kerja kelompok, pastinya ada orang yang tidak ikut terlibat berpartisipasi dalam kelompok namun pada akhirnya ia akan kehilangan kepercayaan pada temannya. Selain itu, akses mencari dan meniliti buku yang menjadi amunisi utama seorang mahasiswa sangat dibatasi. Alhasil, orang-orang membeli buku secara online dan ada sebagian mengunduh buku di internet. Kondisi kesehatan mata juga tertanggu karena terus-terusan berada di depan layar laptop ataupun hp sehingga menimbulkan gangguan. Untuk tugas tidak ada mempengearuhi pengurangan penugasan justru tetap atau bahkan ada yang bertambah.

    Mahasiswa yang dirundung kegelisahan bahkan kegalauan ternyata covid-19 dapat mempengaruhi psikis dan mental. Psikologi seseorang akibat ketidakpastian akan berakhirnya covid-19 menimbulkan kecemasan sehingga depresi yang terjadi. Bentuk lain dari depresi adalah stres banyak yang terjadi dan ditemukan. Akibat selalu di rumah dengan aktivitas semu jelas berbeda dengan konidisi menjalankan aktivitas di luar. Akan terasa kondisi kejiwaan seseorang yang tertekan dan terjadinya degradasi nilai-nilai di kalangan mahasiswa.

    Sikap yang terbentuk dari hasil pembelajaran online ternyata kurang efektif dalam menciptakan karakter pada mahasiswa. Buktinya masih ada mahasiswa yang selama kuliah tidak menggunakan pakaian sopan sesuai aturan. Bahkan banyak yang ribut pada saat dosen menerangkan. Hasil didapat setelah selesai kuliah tidak ada yang masuk ke kepala begitulah ucapan mahasiswa-mahasiswa yang mengeluhkan kuliah daring ini. Berangkat dari sifat tidak baik menimbulkan pemahaman kuliah tidak lagi kuliah karena kuliah telah menjadi hal di nomor sekian. Coba lihat mahasiswa-mahasiswa yang selalu menghabiskan waktu bermain dan liburan.

   Perasaan yang muncul akibat mendengar covid-19 rasanya gelisah atas kerinduan bertemu pada teman-teman sejawat di kampus. Bagi yang getol dalam berorganisasi pasti berjumpa di kampus sesama teman mahasiswa seperjuangan yang begitu mengabdikan jiwanya pada organisasinya. Bicara organisasi kampus ditengah kondisi seperti ini justru mengalami dinamika gejolak tantangan. Pengkaderan terasa sulit akibat stagnasi pada perekrutan sumber daya manusia. Aktivitas kegiatan pun tidak bisa terlaksana secara baik dan kebanyakan acara organisasi pasti di adakan secara daring semuanya.

  Pasca kuliah mahasiswa akan dibenturkan pada pencarian pekerjaan. Covid-19 adalah alasan hilangnya pekerjaan orang-orang akibat banyak di phk secara sepihak  karena runtuhnya sistem perekonomian. Sedikitnya penerimaan lowongan pekerjaan membuat fresh graduate akan beruasah keras dan mati-matian bekerja sesuai yang di inginkan. Namun, selamat bagi orang-orang yang menempuh kuliah di jurusan pendidikan. Meski bekerja sebagai status honorer di sekolah akan tetapi banyak membuka lowongan pekerjaan.

    Dan sebenarnya masih banyak lagi masalah-masalah mahasiswa di masa covid-19 yang belum saya jelaskan. Tetapi pada intinya mahasiswa harus tangguh menghadapi cobaan ini meski kita tidak tahu kapan akan berakhirnya namun satu hal yang pasti, Bukannya anak muda itu tidak mudah menyerah?. Maka teruslah semangat dan jangan lagi bermalas-malasan karena kuliah daring maka kuliah haruslah dipenuhi dengan rasa optimis dan percaya diri. Yakin covid-19 akan hilang sehingga hidup kita akan kembali pada sedia kala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar